30 January 2009

BLACK BROTHERS

Sulit juga mencari referensi di internet tentang grup asal Pulau Cendrawasih ini (saya sendiri blank tentang grup yang satu ini).
Jadi kalau ada yang tahu tentang grup ini, silahkan mengisi di kolom komentar.

29 January 2009

GOMBLOH, TUTUR SANG TRUBADUR

Oleh Denny Sakrie

Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku
Andaikan matahari terbit dari barat, kaupun tetap Indonesiaku
Tak sebilah pedang yang tajam dapat palingkan daku darimu
(Kebyar-Kebyar, 1979)

Lirik yang terasa menyelinap ke wilayah jingoisme ini nyaris seperempat abad berkumandang di saat persada tercinta merayakan Proklamasi Kemerdekaan di setiap Agustus. Bahkan, tanpa sadar lagu yang ditulis dan dipopulerkan Gombloh kini secara tak resmi berdampingan dengan Padamu Negeri (Kusbini), Berkibarlah Benderaku (Ibu Sud) atau Dari Sabang Sampai Merauke (R Surarjo) sebagai national anthem atau lagu-lagu wajib nasional. Sesuatu yang mungkin tak terpikirkan Gombloh ketika menciptakan lagu ini dipertengahan era 70-an. Tetapi sebetulnya Kebyar-Kebyar bukanlah satu-satunya lagu karya cipta Gombloh yang bermotif nasionalisme.


Arkian, Gombloh yang lahir pada tanggal 14 Juli 1948 dengan nama Soedjarwoto Soemarsono, juga banyak menorehkan sederet lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme. Simak saja Dewa Ruci (dari album Terimakasih Indonesiaku):

Dan aku nyanyikan 'Padamu Negeri'
Berbekal sala kaum sebangsa
Kau terjang aral-aral melanda
Blerbekal rasa cinta sesama
Kau tebar rasa cita manusia
Juga simaklah lagu Gugur Gugur Bunga (dari album "Berita Cuaca") :
Kau teriak merdeka, kala peluru melanda
Tersenyum engkau menyongsongnya
Tersenyum engkau dalam darah

Atau simaklah tutur Gombloh bak orator dalam Gaung Mojokerto-Surabaya (dari album 'Nadia dan Atmosphere'):

Bumi rasa bergetar diseling yel-yel menghantar
Nadiku serasa bergeletar
Merdu pekik menggelegar
Senyumlah Surabaya

Selain itu Gombloh masih menulis banyak lagu bertema cinta negeri mulai dari lagu bertajuk Indonesia Kami, Indonesiaku, Indonesiamu, Pesan Buat Negeriku, hingga BK lagu yang bertutur tentang sosok Bung Karno, sang proklamator.

Tapi Gombloh memang seolah trubadur komplit. Dia tak hanya memuja-muji tanah kelahiran, tak hanya menafsirkan pesan-pesan alam tapi juga memotret fenomena sosial kalangan working class bahkan mengedepankan kritik sosial yang tajam pula.
Betapa fasihnya Gombloh menuturkan sketsa kehidupan rakyat jelata sehari-hari memang terlihat dari deretan kata-kata yang dirangkainya dalam lagu-lagu ciptaannya seperti Doa Seorang Pelacur, Kilang-Kilang, Poligami Poligami, Nyanyi Anak Seorang Pencuri, Selamat Pagi Kotaku. Bahkan Martin Hatch seorang peneliti dari Cornell University mempelajari lagu - lagu dalam album Gombloh Berita Cuaca (1982) dan mengangkatnya dalam sebuah karya ilmiah bertajuk Social Criticsm In The Songs Of 1980's Indonesian Pop Country Singers dan dipresentasikan dalam seminar musik The Society of Ethnomusicology yang berlangsung di Toronto Kanada pada 2 hingga 5 November 2000 silam.
Dalam makalahnya Martin Hatch meneliti kekuatan dan nilai lagu-lagu karya Gombloh dalam perspektif kehidupan sosial seperti Berita Cuaca, Hong Wilaheng Sekareng Bawono Langgeng, Denok-Denok Debleng, Ujung Kulon Baloran, 3600 Detik, Kebayan-Kebayan, Hitam Putih dan Kami dan Alam.

Memasuki era 80-an,Gombloh mulai menorehkan karya-karya yang berkonotasi humor seperti lagu Lepen (singkatan Lelucon Pendek) maupun Selopen (singkatan Seloroh Pendek) yang menghasilkan sebuah idiom yang begitu lekat di khalayak ramai: Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat.

Disisi lain, Gombloh yang tercerabut dari budaya pop justru tak bergeming ketika harus menghasilkan lagu seperti Kugadaikan Cintaku yang berhasil terjual diatas jumlah 1 juta keping .
Di era inilah Gombloh seolah terjerembab pada karya-karya yang berorientasi ke pasar. Lalu bermunculanlah lagu-lagu seperti Apel, Hey Kamu, Percayalah Cintaku Tetap Hangat, Karena Iseng, Arjuna Cari Cinta, Konsumsi Cinta hingga Tari Kejang. Gombloh pun mulai menulis lagu-lagu bertema pop untuk penyanyi Tyas Drastiana hingga Vicky Vendi.
Tak sedikit yang menyayangkan sikap Gombloh dalam bermusik seperti ini. Gombloh seperti tak kuat lagi mempertahankan idealisme dalam berkarya. Walhasil Gombloh memang seolah terpilah pada dua kepribadian dalam karya-karya ciptanya, antara karya-karya idealis dan karya-karya yang bermuara di wilayah komersial. Mungkin ini adalah pilihan Gombloh yang pragmatis.

Dan ini sah-sah saja. Namun justru membaurnya Gombloh dengan tema populis membuat sosoknya semakin dikenal masyarakat luas. Kini siapa yang tak mengenal Gombloh ketika tampil di layar TVRI pada acara-acara musik seperti Aneka Ria Safari dan Selekta Pop dengan dandanan yang menjadi trademark: tubuh kerempeng bersepatu kets, pakai topi, rambut dikuncir, kacamata hitam dan setelan putih-putih.
Gombloh sang trubadur yang menghembuskan nafas terakhir pada 9 Januari 1988, tak lagi hanya didengar oleh kelompok tertentu saja. Ia telah menjadi milik masyarakat banyak.
Bahkan pada 20 Juni 2003 sekelompok pemusik Surabaya tergabung dalam Kelompok Pemusik Jalanan Surabaya yang mengunjungi makam Gombloh menobatkan Gombloh sebagai Pahlawan Pemusik Jalanan. Pada 2005 oleh PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia), Gombloh dianugerahkan penghargaan Nugraha Bhakti Musik atas jasa-jasanya untuk dunia musik di Indonesia.

Sayup-sayup suara Gombloh sang trubadur menggaung dari kaset lawas Nadia & Atmosphere yang telah berusia 28 tahun. Lagu bertajuk Silhoutte Kuda Jantan ini seperti menyibak jatidiri Gombloh yang sesungguhnya :

Tak lekang hempasan zaman
Dan satu jalur pandang mataku
Idealisme kehidupan
Kemurnian yang kukuh tanpa ragu
yang menyengat harian karya

DISKOGRAFI GOMBLOH
1.Nadia dan Atmosphere (Golden Hand,1978)
2.Mawar Desa (Golden Hand,1978)
3.Kadar Bangsaku (Golden Hand,1979)
4.Kebyar Kebyar (Golden Hand,1979)
5.Pesan Buat Negeriku (Golden Hand,1980)
6.Sekar Mayang (Golden Hand,1981)
7.Terimakasih Indonesiaku (Chandra Recording,1981)
9.Pesan Buat Kaum Belia (Chandra Recording,1982)
10.Berita Cuaca (Chandra Recording,1982)
11.Kami Anak Negeri Ini (Chandra Recording,1983)
12.Gila (Nirwana,1983)
13.1/2 Gila (Nirwana,1984)
14.Semakin Gila (Nirwana,1986)
15.Apel (Nirwana,1986)
16.Apa Itu Tidak Edan (Nirwana,1987)
(Sumber: Republika, Jumat 18 Agustus 2006)

27 January 2009

CHRISYE - SABDA ALAM (1978)


Ke-legenda-an Chrisye sebagai musisi memang tidak dapat dipungkiri lagi. Hal ini terbukti dari banyaknya penghargaan yang diraih selama karir bermusiknya.
Mulai bermusik ketika bergabung sebagai bassist dengan band Gipsy, ia lalu menjulang lewat lagu "Lilin-lilin Kecil" di sekitar tahun 1977 dan Badai Pasti Berlalu setelah bersolo-karir sebagai penyanyi.
Penghargaan yang pernah diraih Chrisye antara lain:
  1. 1978 _ PENYANYI KESAYANGAN ANGKET ABRI
  2. 1979 _ 2 GOLDEN RECORD (Sabda Alam)
  3. 1983 _ SILVER RECORD (Resesi)
  4. 1984 _ SILVER RECORD (Metropolitan)
  5. 1985 _ SILVER RECORD (Sendiri)
  6. 1985 _ BASF AWARD (Sendiri)
  7. 1986 _ BASF AWARD (Aku Cinta Dia)
  8. 1986 _ GOLDEN RECORD (Aku Cinta Dia)
  9. 1986 _ BASF AWARD (Hip Hip Hura)
  10. 1986 _ SILVER RECORD (Hip Hip Hura)
  11. 1988 _ BASF AWARD (Kisah Cintaku)
  12. 1989 _ HDX AWARD (Pergilah Kasih)
  13. 1989 _ BASF AWARD (Cintamu Telah Berlalu)
  14. 1993 _ VMI AWARD V (Video Klip Terbaik)
  15. 1994 _ BASF AWARD (Penyanyi Legendaris)
  16. 1997 _ AMI AWARD (Penyanyi Pop Pria Terbaik)
  17. 1998 _ ASIA VIEWERS CHOICE AWARD (Video Klip Terbaik)
  18. 1998 _ AMI AWARD (Penyanyi Pop Pria Terbaik)
  19. 1998 _ Album Terbaik (Kala Cinta Menggoda)
  20. 1998 _ Produser Album Terbaik (Kala Cinta Menggoda)
  21. 1998 _ MENTERI PARIWISATA, SENI dan BUDAYA
  22. 2000 _ MTV (Best Male Singer)
  23. 2000 _ AMI SHARP AWARD (Penyanyi Pop Progresif Terbaik)
  24. 2000 _ AMI SHARP AWARD (Album Pop Progresif Terbaik)
  25. 2000 _ AMI SHARP AWARD (Penyanyi Rekaman Terbaik)
  26. 2000 _ AMI SHARP AWARD (Penata Musik Terbaik)
  27. 2000 _ Operator Rekaman Musik Kategori Penunjang Produksi
  28. 2000 _ KABAR KABARI Artis Tak lekang Zaman
  29. 2000 _ KOPI SUSU AWARD Artis Terpopuler Pilihan Pemirsa
  30. 2000 _ CLEAR TOP 10 Funkiest Male Singer
  31. 2001 _ PLANET MUZIK Penyanyi Pria Terbaik
  32. 2001 _ MTV Indonesia Most Favorite Male
  33. 2002 _ Platinum AWARD (album Badai Pasti Berlalu)
    (Dari detikhot.com)

CHRISYE - SABDA ALAM (1978)

  1. Sabda Alam
  2. Smaradhana
  3. Duka Sang Bahaduri
  4. Cita Secinta
  5. Kala Sang Surya Tenggelam
  6. Nada Asmara
  7. Citra Hitam
  8. Adakah
  9. Anak Jalanan

24 January 2009

Berburu Koleksi Harry Roesli



Jakarta – Seniman bengal itu memang telah wafat. Kepergiannya ditangisi puluhan penggemar, sahabat hingga rekan sejawat dalam karier bermusik. Yang pasti, almarhum Harry Roesli meninggalkan sederet cerita, termasuk karya-karya papan atas selama kariernya. Tentu saja, karya-karya itu menarik untuk diburu sebagai barang koleksi.
”Waduh, saya baru aja ngelepas (baca: menjual) dua kaset Harry Roesli kemarin. Telat sih datangnya,” sebut Bang Haji, salah seorang penjual kaset dan piringan hitam lawas di bilangan Jl. Surabaya, Jakarta. Dua kaset tadi berhasil dilego seharga Rp 100.000. Dan, kini Bang Haji mengaku kehabisan stok koleksi karya-karya Harry Roesli. Menurut pengakuan Bang Haji, dirinya pernah berhasil tiga kali melego piringan hitam Philosophy Gang. Ini album pertama seniman asal Bandung itu yang dirilis pada 1971 dengan label Lion Record Singapore. Sayang, Bang Haji tak lagi ingat soal waktu dan harga penjualan album tersebut. Yang pasti, harganya belum melambung seperti sekarang ini. ”Waktu itu, senimannya kan masih ada,” ujar Bang Haji yang ditemui di kiosnya. Berburu koleksi karya-karya Harry Roesli bukanlah hal gampang. Di penjual-penjual kaset lawas dan koleksi piringan hitam tak selalu memiliki stok. Lian (41 tahun), penjual piringan hitam dan kaset lawas di Jl. Surabaya, malah menyarankan SH untuk mencari koleksi album seniman musik Indonesia lainnya, macam Koes Plus, A.K.A atau Dara Puspita. ”Album Harry Roesli memang susah didapatnya,” kata Lian, ramah.Selain jumlah kaset atau piringan hitamnya sedikit, sebut Lian, penggemar musik Harry Roesli memang terbatas jumlahnya. Di masa silam, kolektor yang mencari karya-karya seniman bernama komplet Djauhar Zaharsyah Fachrudin Roesli ini tak perlu dihitung dengan bantuan kalkulator alias sedikit. Kosong stok juga diakui Yusfar, penjual kaset dan piringan hitam lawas yang kiosnya tak seberapa jauh dengan kios milik Lian. Sebetulnya, Lian mendapat pesanan kaset dan piringan hitam musik Indonesia dari Kevin Blyth – kolektor asal Australia. Di antara sederet pesanan yang dikirimkan lewat selembar daftar ”barang” yang diburu, terselip pesanan kaset Titik Api – album karya Harry Roesli yang dirilis di bawah payung Aktuil Musicollection (1976).
Kelangkaan album koleksi Harry Roesli tentu melambungkan harga jual. Menurut pantauan Denny Sakrie – pengamat musik sekaligus kolektor karya seniman musik Indonesia - pada beberapa lapak khusus menjual kaset-kaset loakan seperti di Jatinegara, Jalan Surabaya, Taman Puring hingga Tanah Abang, album-album Harry Roesli yang fenomenal seperti Titik Api,Gadis Plastik dan Ken Arok dipatok dengan harga tinggi. Berkisar antara Rp 40.000, Rp 50.000 bahkan Rp 75.000. (baca juga: ”Melacak Peninggalan Karya Harry Roesli”).Padahal, ketika kaset tersebut pertama kali dirilis, Denny membelinya dengan harga antara Rp 600 - Rp 800. ”Waktu itu, saya masih SMP.” Denny paling suka dengan Philosophy Gang. Selain sampul albumnya yang kontroversial, materi lagunya juga sarat dengan kritik sosial.Denny pernah siaran bareng dengan pemusik kelahiran Bandung, 10 September 1951 ini di radio M97FM Jalan Borobudur Menteng Jakarta. ”Gue siaran sama almarhum hari Minggu, 2 Agustus 1997.” Waktu itu, Harry datang bersama gang lamanya kayak Albert Warnerin, Triawan Munaf dan Eddy Mehong.
Ada cerita yang menarik pada saat siaran bareng itu. Saking semangatnya, Harry sudah datang ke studio pukul 18.00 WIB – padahal baru mulai pukul 21.00 WIB. Akhirnya, sembari mengobrol ngalor-ngidul Denny menunjukkan Harry, koleksi album lawas miliknya. Kebetulan, materi siaran tak jauh dari lagu-lagu yang terdapat dalam album Philosophy Gang, Titik Api, Ken Arok, Tiga Bendera, Daun, Ode & Ode, DKSB, Gadis Plastik dan lainnya. Begitu ”dipamerkan”, cerita Denny, Harry Roesli justru terhenyak. Mau tahu komentar seniman yang pernah berurusan dengan pihak berwajib karena menyanyikan lagu Garuda Pancasila secara plesetan ini ketika itu, ”Gila.....euy gua sendiri kagak nyimpen.” Nah lo!”
Kontroversi” soal koleksi Harry Roesli memang tak berhenti sampai di situ. Denny pernah mendapat diskografi lengkap dari si empunya karya-karya ciamik itu. Hasilnya, ada sejumlah album yang ”hilang” alias tak pernah ditemukan di pasaran. ”Gue nggak punya koleksinya, malahan sampe sekarang gue belum pernah liat barangnya,” kekeh Denny. Mau tahu album ”langka” itu? Harry Roesli Solo 1 (1972), Harry Roesli Solo 2 (1973), Harry Roesli Solo 3 (1974), Harry Roesli Solo 4 (1975), Asmat Dream (1990), Orang Basah (1991) dan Cuaca Buruk (1992). Empat album yang pertama disebut tadi dirilis dengan label Diamond Malaysia dengan format piringan hitam. Sisanya bernaung di bawah Frog Peak, Amerika Serikat dalam bentuk cakram padat (CD/compact disc). Apa pun karya-karya Harry Roesli memang menarik untuk dikoleksi.(SH/bayu dwi mardana dari Sinar Harapan 2003)

GADIS PLASTIK - 1978

21 January 2009

AWAL MUNCULNYA DAN PERJALANAN INDO POP PROGRESSIVE

Oleh : MH Alfie Syahrine

Memang susah bila kita mencari suatu permulaan darimana dan kapan permulaan itu terjadi seperti halnya musik Indo pop progressive tapi saya lebih cenderung mengatakan bahwa awal suatu eksperimen Indo pop progressive berasal dari buah tangan Idris Sardi yang mengiringi lilis Suryani dalam sebuah album sunda yang yang berjudul ”Antosan” (Bali Record 1964) dimana Idris Sardi benar benar all out dalam menggarap aransemen lagu lagu Lilis itu dengan menggabungkan elemen elemen musik klasik dan pop dengan full orkestra hingga hasilnya sangat mengagumkan…ada beberapa lagu sunda yang dinyanyikan Lilis Suryani yang arransemen-nya membuat saya tidak pernah bosan mendengarkannya … very classical oriented ! namun setelah itu dunia musik berkualitas nasionalpun redup kembali dengan bermunculannya penyanyi penyanyi pop keluaran Irama Record milik Mas Yos boss-nya El Shinta dulu seperti ; Djon Karjono , Gusti Imanuddin, Liliana, Rita & Nita dll.

Waktupun berjalan hingga pada awal tahun tujuhpuluhan bermunculanlah group band-group band bak jamur dimusim hujan tapi dari sekian banyak group band yang muncul dan melegenda hanya terdapat beberapa saja seperti : Rhapsodia, The Rollies, Giant Step, Harry Rusli, Rasela, The Rhythm Kings ,AKA, SAS, Godbless, Superkid , Shark Move dan Favourite’s Group dan pada dua band inilah muncul lagu lagu yang aransemennya sangat berkualitas dan pantas di sebut sebagai Indo Pop Progressive kita lihat saja Favourite’s Group didalam lagu-lagu “Mawar Berduri”dan “Teratai Putih” elemen elemen klasiknya sangat kental sekali tetapi A Riyanto sebagai pengarang lagu dan aranjer sangat menguasai sekali didalam meramu keduannya hingga lagu yang sesungguhnya “berat” menjadi enak didengar begitu juga bila kita menyimak lagu “Sakit Dikenang Dibuang Sayang” yang dilantunkan oleh Arie vokalis andalan Favourite’s Group (hingga Vol 3) lagu dan arransemen-nya sangat pas dan saya tidak berlebihan kalau penulis mengatakan bahwa lagu ini sangat berbau klasik sekali aransemen-nya( sudah berkali-kali saya mau meminjam PH-nya pada rekans KPMI untuk saya convert ke CD tapi tidak terlaksana terus). Sedangkan Shark Move begitu berhasil membawakan lagu “Bingung” dan “Madat” (sedangkan prog rock-nya sudah banyak dibahas oleh Mas Toro)

Pada tahun 1974 Maulani (entah dimana beliau sekarang) menyanyikan sebuah karya A Riyanto dengan iringan band 4 Nada yang untuk penggarapan lagu ini 4 Nada full orkestra judulnya “Biarkan Bunga Berkembang” (yang kemudian dinyanyikan lagi oleh A Riyanto tapi sudah kehilangan nuansa spiritual touch nya) yang mana bagi saya lagu ini luar biasa sekali baik lirik maupun arransemennya oleh karenanya hingga kini album Maulani yang pertama ini masih tetap menjadi target hunting saya.

Namun lagi lagi pada kurun waktu setelah pertengahan tahun tujupuluhan dunia musik pop berkualitas redup kembali karena lagu lagu pop era model Eddie Silitonga, Kembar Group, Madesya Group, UsBross dll yang lagu lagunya mendayu dayu bermunculan sedangkan musik panggung dan rock sudah nyaris punah tergilas oleh musik New Wave dan Disco dan pada masa masa kritis seperti itu muncullah Barong Band yang merekrut anak anak Pegangsaan seperti Debby Nasution dan Gaury maka jadilah dua album Barong Band yang melawan arus saat itu; namun mereka tidak bisa dibilang sukses walaupun ada beberapa lagu yang sempat dikenal seperti “Halleluya” dan “Superstar Tenggo” yang menyindir bahwa di Indonesia ini begitu mudahnya masyarakat atau jurnalis memberi predikat superstar... hingga pelawak Ratmi B 29-pun dijuluki superstar. Tidak lama kemudian Harry Rusli dengan proyek ajaibnya yang menggabungkan musik tradisionil Sunda dengan rock maka jadilah album “Titik Api” yang banyak orang mengatakan sebagai sebuah mahakarya original yang luar biasa dimana Harry mentradisionilkan rock dengan suksesnya. Bandung yang pada tahun tujuhpuluhan disebut sebut sebagai kota sarang-nya musisi sangat produktif salah satunya adalah Giant Step yang di motori Benny Soebardja melemparkan album “Kukuh Nan Teguh” yang menurut pak Riza Sihbudi permainan Triawan pada keyboard sebagai luar biasa pada masa itu, inilah album murni GS yang seluruhnya berbahasa Indonesia karena sebelumnya band ini baik di panggung maupun pada rekaman selalu membawakan lagu lagu Inggris hasil ciptaan mereka

Seiring dengan suksesnya Titik Api anak anak Jakartapun tidak mau ketinggalan , di pehujung tahun 1975 Guruh Soekarnoputra dan anak anak Gipsy serta Abadi Susman dan beberapa musisi Bali biboyong ke studio Tri Angkasa untuk membuat suatu proyek raksasa memadukan gamelan Bali dengan musik rock ,Guruh mengajak Kompiang Raka ( yang kemudian menjadi Wakil Direktur Gedung Kesenian Jakarta), untuk memuluskan eksperimennya.
Berbeda dengan harry Rusli yang mentradisionilkan musik rock ,Guruh sebaliknya dia merock-kan musik tradisionil seperti Ebehard Schoener musisi dari Jerman sebelumnya dengan proyek Bali Agung. Album Guruh Gipsy ini memang sangat megah terutama pada lagu Indonesia Maharddeka walaupun masih terasa bau Genesis, Deep Purple dan Triumvirat didalamnya.


Pada tahun 1977 anak anak Godbless dan Young Gipsy bergabung membuat suatu gebrakan yang membuka cakrawala baru dunia permusikan Indonesia , mereka adalah Yockie Suryoprayogo,Keenan Nasution, Donny Fattah dan Odink Nasution membuat musik baru yang kemudian kita kenal sebagai Pop Progressive didalam album LCLR Prambors Rasisonia dimana mereka membuat suatu revolusi baru dalam dunia permusikan di Indonesia yaitu musik berkualitas gabungan antara pop, klasik dan rock dimana untuk pertama kalinya Yockie menebar suara suara orkestra dari melotron yang masih asing buat pendengar musk pop yang saat itu hanya dikonsumsi oleh anak anak muda kalangan Kebayoran dan Menteng saja yang kemudian merambah ke Rawamangun dan Tebet serta berkelanjutan menjadi suatu penomena di kalangan remaja Indonesia. Lagu Lilin Lilin Kecil merupakan suatu terobosan baru didalam kasanah musik pop Indonesia dimana lagu, penyanyi arransemen dan musisi pengiringnya sangat cocok saling menopang satu sama lain hingga album LCLR itu meledak luar biasa ! , Begitu juga dengan album Chrisye ‘Badai Pasti Berlalu’ samalah fenomenalnya seperti ketika Genesis mengeluarkan album “Foxtrot “ mendapat tanggapan dan pujian yang sangat luar biasa sekali dan itu melambungkan nama Chrisye dan Yockie Suryoprayogo sebagai penanyi dan aranjer yang patut diperhitungkan (namun ironisnya para musisi yang mendukung dan mensukseskan album ini nyaris tidak dikenal oleh masyarakat seperti para musisi yang mengiringi LCLR I&II ! ).

Dan pada tahun 1978 tidak disangka sangka anak-anak SMA Perguruan Cikini yang tergabung dalam kelompok Rara Ragadi melemparkan suatu album yang berjudul “Rara Ragadi” , walaupun mereka masih muda-muda akan tetapi talenta bermusiknya luar biasa!. Banyak lagu lagu didalam album itu yang sangat progressive apalagi pada lagu Rara Ragadi yang menceritakan dendam kesumat seorang jagoan wanita yang patah hati karena ditinggal kekasihnya, lagu ini luar biasa sekali dari segi arransemen musiknya. Iwan Arsyad almarhum sangat cekatan sekali didalam menyanyikan lagu ini sedangkan Riza Arsyad yang bermain pada keyboard sangat mengagumkan sekali permainannya walaupun saat itu usianya belum mencapai tujuhbelas tahun begitu juga gebrakan drum Cendy Luntungan yang mantap dan rapi sekali disamping kehebatan Raidy Noor didalam memainkan gitarnya. Sayang group yang sangat berbakat ini bubar manakala Iwan Arsyad sang vokalis wafat. Kini Riza tidak pernah aktif dimusik progressive lagi dia mengkhususkan diri pada musik jazz Raidy Noor masih tetap istiqomah dengan prog rock-nya di Cockpit sejak awal delapan puluhan menggantikan Harry Minggus sedangkan Cendy Luntungan lebih banyak sebagai travelling drummer dari satu band ke band lainnya.

Namun tidak lama kemudian dunia permusikan dikejutkan kembali dengan kemunculan Keenan Nasution yang melempar album perdananya ” Dibatas Angan Angan” suatu proyek album solo yang megah dengan seabreg musisi berkualitas yang terlibat didalamnya. ”Dibatas Angan Angan” ini memang sangat megah terutama pada lagu Dibatas Angan Angan, Negeriku Cintaku, Buku Harian dan Cakrawala Senja sedangngkan lagu Negeriku Cintaku seperti telah menjadi lagu kebangsaan-nya Keenan disetiap pagelaran musiknya walapun ada ”Close To The Edge ”nya Yes menyelinap disana, tapi walaupun demikian Keenan masih tetap bisa bertahan dalam warna musik Indo Prog hingga album ”Tak Semudah Kata Kata”

Setelah Dibatas Angan Angan ini ,Abhamma band-nya anak-anak IKJ yang sebagai band pendamping konser Dibatas Angan Angannya Keenan di TIM tahun 1979 melemparkan album ”Alam Raya” dengan lagu lagu yang liriknya ditulis oleh Tubagus benny seperti ;Malam, Alam Raya, Asmara dll yang semuanya sangat apik sekali . Abhama meramu musik rock dengan lagu lagu klasik karya Debussy , Johan Sebastian Bach dll dengan apik dan cermat sekali, hingga album ini disebut sebut oleh pengamat musik barat sebagai the perfect Italian progressive style album dengan vokalis-nya yang berbakat, Iwan Madjid.

Disusul pada awal tahun 1980-an oleh Harry Sabar yang setelah sukses dengan lagu ciptaannya ”Sesaat” melempar album ”Lazuardy” sambil menggandeng anak anak Pegangsaan seperti Odink, Debby dan Keenan Nasution serta pianis classic Marusya Nainggolan. Album ini sangat classic oriented yang dibaurkan dengan Geneis style terutama permainan gitar Odink dan keyboardnya Debby.

Yockie Suryoprayogo yang berkolaborasi dengan Idris Sardi mengeluarkan album ”Musik Saya Adalah Saya” yang sebenarnya sangat bagus sekali akan tetapi karena jamannya sudah berubah maka album ini secara komersial tidak menghasilkan keuntungan lain dengan Fariz RM yang bukan saja menangguk keuntungan finansial tetapi juga popularitas setelah dia merilis album berbau disco ”Sakura” dan ”Selangkah Keseberang” .

Nampaknya Yockie sebagai pamungkas atau penutup era keemasan-nya Indo Progressive di tanah air karena dibelahan dunia sana trend musik-pun telah berubah, wabah ” newwave” sudah tidak dapat dibendung lagi seperti uraian kekecewan Jurgent Fritz keyboardist Triumvirat tentang tidak kondusifnya lagi dunia musik saat itu terhadap musik progressive yang tergilas oleh musik musik ” Punk” dan di Indonesia-pun demikian pula era ”Semangka Berdaun Sirih”, ”Gelas Gelas Kaca” atau ”Sepatu Kulit Rusa”dll telah mewabah dunia permusikan Indonesia yang sayangnya Keenan-pun ikut juga terbawa arus disana dan membuat penggemarnya terhenyak ..bengong. dengan handmoog Keenan menyanyikan satu lagu karangan Melky Guslow ”Lain Dulu Lain Sekarang” disebuah acara Aneka Ria Safari dan lagunya tidak jauh dari model...”Semangka Berdaun Sirih”.... memang pada era 1980-an itu tidak ada satupun album Indo Progressive yang terekam didalam catatan sejarah musik nasional kecuali Godbless merilis ”Cermin” yang dahsyat itu walaupun Abadi Susman hilaf menyelipkan Tarkus-nya ELP kedalam lagu ”Anak Adam” .

Ada juga tampil (reinkarnasi-nya dari Abhamma) WOW yang dimotori oleh Iwan Madjid memeriahkan blantika musik Indo Pop Progressive diawal tahun delapanpuluhan tapi sayangnya album pertama yang sebenarnya dahsyat itu agak melenceng juga dengan ”copy paste” Firth of The Fifth-nya Genesis dilagu ”Armagedon” sehingga apresiasi para penggemar musik Indo Prog jadi tertahan, mereka berhasil melempar tiga buah album sebelum bubar, ditambah sound track film Lupus.

Pada tahun 1988 Iwan Madjid melemparkan album solonya yang berbau prog juga dengan mendaur ulang salah satu lagunya di Abhamma yaitu ”Asmara” dibantu oleh Fariz RM dan Eet Syahrani.Iwan sebenarnya sangat berbakat tetapi dia tidak sepenuh hati menerjunkan dirinya kedunia musik hingga namanya-pun pada akhirnya hilang didalam blantika musik papan atas.

Hingga di awal tahun 1990-an anak-anak Pegangsaan kembali menggebrak dunia permusikan tanah air dengan mengeluarkan 3 album yang berwarna musik Progressive seperti pada lagu Manusia kera dan Palestina II yang mana musiknya benar-benar bernuasa Genesis . Hingga pada menjelang akhir 1990’an Godbless sebagai senior band muncul kembali dengan merilis album ”Semut Hitam” dengan warna musik progrssive yang ngerock sekali dan dahsyat seperti pendapat pak Riza Sihbudi terutama kedahsyatan permainan Yockie, Ian dan Teddy dihampir semua lagu lagu terutama lagu ”Trauma”

Di era reformasi ini nampaknya angin segar mulai berhembus kembali di dunia Indo Pop progressive... seiring bangkitnya kembali musik progressive di seluruh dunia.

Pada tahun 2002 group Dewa di album ”Dewa Bintang Lima” dalam lagu ”Risalah Hati”, lagu yang menduduki tangga teratas selama lebih dari tiga bulan itu sangat ngeprog sekali dan berbau Genesis terutama Andra gitarisnya jelas sekali permainannya kearah progressive oriented ala Steve Hackett. Pada era tahun 2000-an ini juga dalam lagu “Janji kita” Kelompok anak anak muda berbakat; Keris Patih, permainan gitarnya juga kental dengan warna Steve Hackett dan dimainkannya dengan apik sekali.

Dengan reuninya kembali group prog pogressive rock papan atas seperti ; Asia, Genesis, Yes dan Triumvirat dimana band-band inilah yang telah memberikan ilham pada para pemusik Indo pop progressive maupun progressive rock Indonesia di era 1970-an dulu, akan dapat kembali menggairahkan musik Indo Pop Progressive di Nusantara, semoga. (Sumber: prog-rock@groups.yahoo.com)

13 January 2009

FARIZ RM's Projects

Persentuhannya dengan musik terjadi saat Faris mulai belajar piano klasik di usia 5 tahun. Guru pertamanya adalah ibunya sendiri. Baru pada usia 8 tahun, ibunya menyerahkan Fariz untuk belajar pada guru piano terkenal, Alm. Soenarto Soenaryo. Belajar piano klasik dijalaninya sampai ia berumur 17 tahun. Adapun musik klasik, ia pelajari sendiri.

Tahun 1977, Fariz dan teman-temannya -- Raidy Noor, Ikang Fauzi, Erwin Gutawa -- di SMA 3 Jakarta mengikuti Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors I. Nama yang dipakai bukan perorangan. Melainkan atas nama vokal grup sekolah. Tak disangka, dua lagunya terpilih oleh dewan juri sebagai pemenang. ''Kami makin yakin bahwa kita mempunyai sesuatu di musik,'' ujar Fariz.

Sejak itulah ia mulai dikenal kalangan musisi. Ajakan bergabung atau mendirikan grup baru mulai berdatangan. Badai Band, Wow, dan Shympony adalah tiga dari banyak grup yang pernah dimasukinya.

Adalah lagu Sakura -- Soundtrack film Sakura Dalam Pelukan -- yang melambungkan nama pengagum Mozart, Ismail Marzuki, Led Zeppelin, Gino Vanelli, Beatles dan Rolling Stones ini. ''Perjuangannya tidak mudah,'' kata penghasil 15 album solo dan lebih dari 84 album kolaborasi itu.

Tidak salah bila pada tahun 2008 majalah Rolling Stones Indonesia memprakarsai sebuah konser tunggal sebagai penghargaan atas kiprahnya di blantika musik tanah air. (Dikutip dari berbagai sumber)

HARRY ROESLI's Projects

Harry Roesli dilahirkan di Bandung 10 September 1951. Dibandingkan dengan ketiga kakaknya yang menjadi dokter, Harry malah ingin menjadi insinyur dan masuklah ke jurusan Sipil ITB, namun kuliahnya tidak diselesaikan karena senang musik meskipun ditentang oleh keluarganya. Ibunya berkata, “Biarkan Harry jadi dokter musik”. Namun, untuk serius bermain musik ayahnya tidak setuju. “Anak band itu tukang mabuk-mabukan” kata ayahnya saat itu. Karena Harry bersikeras ayahnya pun mengizinkan, “Asal tak dikomersialkan”. Syarat ayahnya itulah yang kemudian menjadi salah satu warna musik Harry. Tidak komersial. “Musik saya tak laku dijual karena merupakan eksperimen, analisa, dan konsentrasi” tuturnya.
Musik menjadi kehidupannya. Ia belajar musik di Rotterdam Conservatorium, selesai tahun 1981. Juga aktif di Departemen Musik IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Rumahnya pun dijadikan markas Depot Kreasi Seni Bandung (DKSB), dengan kegiatan musik perkusi, band, rekaman musik, serta kegiatan lainnya. Buat penggemar musik, apa yang disuguhkan Harry memang sesuatu yang aneh. Peralatan yang dipakai pun ganjil. Drum, gitar, gong, botol, kaleng rombeng, pecahan beling, dan kliningan kecil. Di Gedung Merdeka Bandung, suguhan selama 75 menit membuat penontonnya shock. “Mereka tak mengira suguhannya seperti itu” jelasnya. Nama Harry mulai dibicarakan ketika awal 1970-an, bersama Albert Warnerin, Indra Rivai, dan Iwan Abdul Rachman, membentuk Gang of Harry Roesli. Kelompok musik ini bubar tahun 1975, karena para pemainnya kawin. Selain mendirikan band, Harry juga mendirikan kelompok teater yang diberi nama Ken Arok, tahun 1973. Grup ini mementaskan Opera Ken Arok, Agustus 1975 di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Dua tahun kemudian bubar lantaran Harry belajar ke Negeri Belanda. (Disadur dari Pusat Data dan Analisa Tempo)

GURUH SOEKARNO PUTRA's Projects

    Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra kelahiran 13 Januari 1953 adalah anak bungsu dari pasangan Presiden pertama RI, Soekarno dan Fatmawati. Kontribuasinya pada perkembangan musik tanah air tidak sedikit. Ia mendirikan grup kesenian Indonesia yang bernama GSP Production (Gencar Semarak Perkasa) dan juga sebelumnya Swara Mahardhika. Selain itu ia juga pernah mendirikan grup musik Guruh Gypsy Gank Pengangsaan bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye.

    Album Guruh Gipsy Tonggak Musik Pop Indonesia
    oleh Denny Sakrie / KPMI

    Bila album Sgt Pepper's Lonely Heart's Club Band nya The Beatles (1967) dianggap sebagai tonggak revolusi musik pop dunia, maka rasanya tak berlebihan bila kita menyebut album Guruh Gipsy (1976) dari Guruh Gipsy sebagai tonggak musik pop Indonesia.
    Banyak analis musik yang tersemat di album Guruh Gipsy yang kemudian menjadi semacam miles ahead terhadap kecenderungan bermusik di negeri ini. Seperti perpaduan antara musik Barat (baca: rock atau jazz) dengan musik etnik yang kini dilakukan banyak grup musik seperti Karimata, Krakatau, Discus, Simak Dialog dan banyak lainnya.
    Atau simak ballad berbalut orkestra yang kerap dilakukan oleh pemusik-pemusik di masa kini. Uniknya tematik lirik lagu yang tertuang dalam album ini masih relevan dengan kondisi kita sekarang. Padahal rentang waktunya sudah 30 tahun, sejak album Guruh Gipsy dirilis pertamakali pada jelang akhir tahun 1976. Simak penggalan larik lagu Geger Gelgel ini:
    Hasrat hati ingin membeber segala perilaku palsuDegup jantung irama batel bagai derap pasukan GelgelMenentang penjajah angkaraPenindas dasar hak manusiaWahai kawan nyalangkan matamuSimaklah dalam babad Moyangmu
    Atau simaklah perihal kontaminasi budaya yang diungkap dalam lagu Janger 1897 Saka:
    Art shop megah berleret memagar sawahCottage mewah berjajar di pantai indahKarya cipta nan elok indahDitantang alam modernisasi
    Isu arus intervensi budaya Barat yang deras di negara ini jelas terungkap dalam lagu Chopin Larung yang berbalut bahasa Bali:
    Sang jukung kelapu-lapu, santukan baruna krodaNanging Chopin nenten nguguKadangipun ngarusak seni budaya(Perahu terombang-ambing ,karena dewa laut murka.Namun Chopin tiada memahami bangsanya merusak seni budaya)
    Pada lagu yang salah satu frasa-nya menyusupkan komposisi klasik Fantasia Impromptu karya Chopin dengan gamelan Bali ini, dikiaskan rasa prihatin Guruh terhadap intervensi budaya asing yang disimbolkan pada Fryderyk Franciszek Chopin, komposer klasik Polandia.
    Kolaborasi antara Guruh dengan grup band Gipsy ini bisa dianggap semacam simbiose mutualisme.Guruh yang sangat menguasai budaya Bali bertaut dengan Gipsy, grup rock yang paham pakem rock progresif seperti repertoar dari Genesis, Yes maupun Emerson Lake and Palmer (ELP) yang pernah mereka mainkan. Jadi tak heran dibagian interlude Janger 1897 Saka tiba-tiba menyeruak notasi dari outro lagu Watcher Of The Skies nya Genesis.
    Proyek Guruh Gipsy ini didukung oleh Guruh Soekarno Putera (piano,gamelan), Keenan Nasution (drum,vokal), Chrisye (vokal,bass), Roni Harahap (piano,kibor), Oding Nasution (gitar) dan Abadi Soesman (synthesizers). Sebuah eksperimen yang dianggap banyak menghabiskan biaya produksi dan memiliki nilai terobosan yang ambisius. Meskipun sebetulnya menyandingkan dua kultur musik yang berbeda bukan hal yang tak pernah dilakukan orang sebelumnya.
    Si 'bengal' Harry Roesli (alm) dan berbagai nama lainnya pernah melakukan hal yang sama. Bahkan di tahun itu baru saja dirilis album eksperimen Bali Agung yang menggabungkan musik rock dan musik tradisional Bali oleh pemusik eksperimentalis Jerman, Eberhard Schoener.
    Membaurkan gamelan dan musik tradisional, sebetulnya bukan sesuatu yang baru. Komposer Jean Claude Debussy pun telah melakukan hal tersebut dalam ranah klasik. Juga ada pemusik Kanada Collin McPhee yang sejak era 1930-an telah membuat komposisi yang bertumpu pada seperangkat gamelan bertajuk Tabuh-tabuhan (1934).
    Bahkan, Jim Morrison dengan The Doors nya, telah melakukan hal serupa. Pada pada album LA Woman The Doors (1971) termasuk pula album solo Ray Manzarek bertajuk The Golden Scarab hingga Bali Agung Eberhard Schoener (1976).
    Tetapi Guruh Gipsy ternyata memiliki pesona tersendiri, karena mereka tak hanya melakukan eksplorasi bunyi belaka melainkan juga pada tema penulisan lirik yang memasuki wilayah kritik sosial. Coba amati sampul album Guruh Gipsy yang menampilkan kaligrafi Dasabayu, berupa rangkaian 10 aksara Bali dengan arti dan makna tertentu pula. Yaitu I-A berarti kejadian dan keadaan, A-Ka-Sa berarti kesendirian dan kekosongan, Ma-Ra berarti baru, La-Wa berarti kebenaran dan Ya-Ung berarti sejati.
    Konon, kombinasi ke 10 aksara itu di zaman dahulu kala oleh orang Bali diyakini memberikan tuah. Dan gabungan aksara Bali itu sepenuhnya diterjemahkan sebagai suatu keadaan hampa atau kosong yang nantinya akan berubah menjadi kebenaran yang hakiki. Mungkin kita sepakat, jika menelaah lebih jauh, album Guruh Gipsy adalah sebuah mahakarya. Sebuah karya yang menyita banyak pikiran, tenaga dan pengorbanan dalam proses penggarapannya. Dalam catatan saya, album Guruh Gipsy yang hanya dicetak sebanyak 5.000 keping kaset ini harus melalui masa penggarapan yang sangat panjang dan melelahkan.
    Album Guruh Gipsy yang disampul depannya menyertakan tagline: 'kesepakatan dalam kepekatan', memulai masa proses rekaman pada Juli 1975 dan berakhir pada November 1976. Tahap awal proses rekaman berlangsung dari Juli 1975 hingga Februari 1976 dan menggarap sekitar empat lagu, Geger Gelgel, Barong Gundah, Chopin Larung serta sebuah lagu yang belum diberi judul namun akhirnya tidak jadi dimasukkan dalam album.
    Tahap selanjutnya berlangsung selama sebulan penuh mulai dari Mei-Juni 1976 dan menghasilkan 4 lagu yaitu Smaradhana, Indonesia Maharddhika, Janger 1897 Saka dan Chopin Larung yang harus direkam ulang karena masalah teknis. Hal serupa juga dialami lagu-lagu lainnya seperti Barong Gundah dan Chopin Larung. Hingga akhirnya tahap terakhir berupa proses mixing yang berlangsung sekitar 5 bulan mulai dari Juli 1976 hingga November 1976.
    Menjelang akhir tahun 1976 album Guruh Gipsy pun dirilis. Sebuah karya eksperimen telah lahir. Namun tak semua orang mengenal maupun menikmati karya kolosal ini ketika album ini dirilis ke pasaran. Tapi siapa nyana, 30 tahun kemudian, album Guruh Gipsy menjadi album yang paling banyak dicari-cari orang. Mungkin karena faktor kelangkaannya, album ini pun menjadi topik diskusi dari penggemar musik rock progresif di Eropa, Jepang dan Amerika.
    Bahkan beberapa radio yang memutar dan mengapresiasikan musik rock progresif seperti yang dijumpai di Swiss, Belgia hingga Kanada memutar dan mengulas album Guruh Gipsy ini. Dari ukuran industri album Guruh Gipsy memang tidak memenuhi target penjualan, namun dalam pencapaian artistik album Guruh Gipsy bisa dianggap sebagai inspirasi untuk generasi setelahnya. Persis sama dengan album Sgt Pepper's Lonely Heart's Club Band nya The Beatles yang gagal dalam pemasaran,namun dianggap telah mencapai titik revolusi dalam musik pop. (Republika, 12 Juni 2006)

  • Damai (Swara Mahardhika)
  • Perikemanusiaan (Achmad Albar)
  • Nostalgia Hotel Des Indes (Renny Djayusman)
  • Cinta Indonesia (Vina Panduwinata)
  • Seni (Chrisye)
  • Aji Mumpung (Vina Panduwinata)
  • Bidadari Timur (Irawadi)
  • Melati Suci (Vina Panduwinata)
  • Sendiri Di Tengah Malam (Chrisye)
  • Lenggang Puspita (Ahmad Albar)
Guruh Gipsy

Puspa Indah (Vocal by Chrisye)

12 January 2009

GOD BLESS

Berdirinya God Bless berawal kembalinya Iyek (Ahmad Albar) kembali ke Tanah Air setelah beberapa tahun tinggal di Belanda, ia pun berangan-angan membentuk band sendiri yang lebih serius. Bersama Ludwig Le Mans, gitaris Clover Leaf, band Iyek ketika masih di Belanda, Iyek lalu mengajak Fuad Hassan (dram), Donny Fattah (bass) dan Jockie Surjoprajogo (kibor) untuk membentuk band. Tahun 1972, formasi pertama ini melakukan konser perdananya di TIM (Taman Ismail Marzuki)lalu mengikuti pentas musik "Summer '28", semacam pentas 'Woodstock' ala Indonesia di Ragunan, Jakarta, yang diikuti berbagai grup band dari Indonesia, Malaysia dan Filipina. Dengan posisi keyboard yang sudah digantikan oleh Deddy Dores ,Jockie Surjoprajogo sendiri sibuk dengan program musik lain-lainnya seperti LCCR Prambors dan sebagainya.
God Bless adalah grup musik rock yang telah menjadi legenda di Indonesia (mungkin saat ini hanya bisa disaingi oleh Slank). Dasawarsa 1970-an bisa dianggap sebagai tahun-tahun kejayaan mereka. Salah satu bukti nama besar mereka adalah sewaktu God Bless dipilih sebagai pembuka konser grup musik rock legendaris dunia, Deep Purple di Jakarta (1975). (Disadur dari detikhot.com)

GONG 2000

CHRISYE

Bicara tentang sosok legendaris musik Indonesia, pasti tak akan lengkap tanpa menyebut nama Chrisye. Pria yang terlahir dengan nama Chrismansyah Rahadi ini sejak kecil sangat mengagumi dan menyukai musik. Saat usianya masih SD, musik-musik Frank Sinatra, Bing Crosby, Nat King Cole, Dean Martin yang diputar ayahnya dari sebuah piringan hitam semakin menebalkan kecintaan Chrisye kecil pada musik.

Menginjak remaja, pria yang menghabiskan masa kecilnya di kawasan Menteng ini bertetangga dengan Keenan Nasution bersaudara yang saat itu membentuk sebuah band Sabda Nada. Perkenalannya dengan Nasution bersaudara membuka peluang Chrisye menapaki dunia musik.

Meski sempat ditentang ayahnya, Laurens Rahadi, yang tak setuju jika Chrisye menjadikan musik sebagai profesi utamanya, pada akhirnya Chrisye mendapat lampu hijau untuk menekuni musik dan drop-out dari Akademi Perhotelan Trisakti dan Teknik Arsitektur UKI.

Bersama Sabda Nada yang berganti nama menjadi Gibsy Band, Chrisye terbang ke New York pada 1973 dan kembali ke tanah air di tahun yang sama. Saat di New York, Chrisye sempat bergabung dengan Abadi Soesman, Dimas Wahab, Rony Makasutji, dan Broery Marantika yang tergabung dalam band The Pro's.

Kembali ke tanah air di tahun berikutnya, Guruh Soekarno Putra mengajak Gypsi membuat sebuah album rekaman dan menghasilkan album rock bertajuk GURUH GIPSY, album yang menggabungkan gamelan Bali dan instrumen konvensional. Dari sinilah karir Chrisye sebagai penyanyi solo mulai dikenal. Dengan dorongan Guruh, Chrisye menyanyikan lagu 'Lilin-lilin Kecil' karya James F Sundah di Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR), yang diselenggarakan Radio Prambors pada akhir 1976. Lagu bernuansa lembut tersebut sukses melambungkan nama Chrisye.

Usai 'Lilin-Lilin Kecil', Chrisye mulai aktif menelorkan banyak album seperti Badai Pasti Berlalu, Sabda Alam, Aku Cinta Dia, Hip Hip Hura, Kisah Cintaku, Pergilah Kasih, Cintamu Telah Berlalu dan Sendiri Lagi, dan semuanya sukses diterima pasar.

Tenar dan sukses tak membuat Chrisye puas, pria kelahiran Jakarta, 16 September 1949, ini merasa ada yang kurang dalam hidupnya, dan akhirnya pria kalem ini jatuh hati pada GF Damayanti Noor yang kala itu merupakan seketaris Guruh.

Saat menjalani hubungan dengan Noor, Chrisye hanya menemukan satu halangan, yaitu agama. Meski sejak lama Chrisye mengaku mengalami krisis keimanan, dan pada akhirnya memilih Islam sebagai penerangnya, Chrisye tak punya keberanian untuk jujur pada ayahnya. Dan sekali lagi ayah Chrisye dengan bijak menyikapi pilihan hidup putranya, seperti halnya saat dulu Chrisye memutuskan untuk menekuni dunia musik.

Akhirnya pada 1982 Chrisye menjadi mualaf, menikah dengan Noor dan dikaruniai empat anak: Rizkia Nurannisa (1983), Risti Nurraisa (1986), dan putra kembar: Rainda Prashatya & Randa Pramasya (1989).

Pada Agustus 2005 cobaan menghampiri Chrisye. Vonis kanker paru-paru yang dideritanya mengharuskannya menjalani kemoterapi selama enam kali di Singapura. Meski harus berjuang melawan penyakitnya, dan absen selama hampir setahuh, pada Mei 2006, Chrisye kembali memulai debut panggungnya dengan tampil di acara 1 Jam Bersama Ungu, Indosiar. Di tengah-tengah proses penyembuhan, seorang teman lama Chrisye, Alex Kumara, menggagas menerbitkan memoar sebagai salah satu cara untuk meringankan beban Chrisye.

Chrisye menghembuskan nafas terakhir pada Jumat, 30 Maret 2007, pukul 04.08 WIB di kediamannya Jalan Asem II nomor 80 Cipete Jakarta Selatan.

Prestasi dan Kenangan:
Chrisye menyabet penghargaan bergengsi dari dalam dan luar negeri seperti BASF Awards, Golden Record, HDX Awards, MTV Video Music Award Asia Viewer's Choice Award 1998 yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat.

Pada Sabtu, 17 Februari 2007, memoar bertajuk 'Chrisye, Sebuah Memoar Musikal' yang disusun Alberthiene Endah diluncurkan. Buku setebal 373 halaman ini mengupas 30 tahun perjalanan musik, pengalaman hidup dan sederet prestasi Chrisye. (Dikutip dari kapanlagi.com)



Badai Pasti Berlalu

Puspa Indah (Guruh Soekarno Putra Project)

Kompilasi

IWAN MADJID's Projects

Iwan Madjid yang berkelahiran tahun 1957, adalah seorang musikus Indonesia yang populer pada tahun 1980-an. Ia mengenyam pendidikan di Institut Kesenian Jakarta pada tahun 1977 – 1981. Pada tahun 1977 Iwan Madjid membentuk band Abbhama. Mereka sempat mengeluarkan album berjudul Alam Raya. Yang menarik dari band ini adalah kemampuan musikalnya yang tidak kalah dengan musisi asing pada waktu itu. Hal ini diakui oleh para penggemar progresif rock, bukan hanya yang ada di Indonesia, bahkan juga di luar negeri. Pada album Alam Raya, hampir semua lirik ditulis oleh Iwan/Hasan, sangat kental dengan nuansa progresif rocknya. Kabarnya Iwan, dkk ini sangat dipengaruhi oleh ELP (Emerson Lake Palmer) - band progresif rock asal Inggris. Sayang band ini hanya muncul sesaat, kemudian Iwan membentuk band Wow! pada tahun 1983 bersama Fariz RM dan menelurkan 4 buah album.

Di tahun 1988, Iwan Madjid menggarap album solo bertajuk Pesta Reuni yang didukung Fariz RM (drum, keyboard), Uce Haryono (drum), Darwin B Rachman (bas, keyboard), dan Eet Syahrani (gitar). Lirik-lirik lagu di album ini terasa ringan. Cenderung ngepop. Iwan Madjid malah menyanyikan kembali lagu Asmara, yang pernah dibawakan pada album Abbhama.

Iwan sempat membentuk band baru dengan nama Cynomadeus yang terdiri dari Iwan Madjid (keyboard), Todung Panjaitan (bas), Eet Syahrani (gitar), Fajar Satriatama (drum), dan Arry Safriadi (vokal). Kelompok yang juga berkonsep menautkan elemen musik klasik dan rock ini pun usianya tak panjang. Band ini hanya merilis satu album saja, Eet dan Fajar kemudian membentuk band baru dengan nama Edane dengan nuansa metal.

Kabarnya Iwan Madjid sempat mendekam dalam penjara karena ketergantungannya pada narkoba.

SOLO

ABBHAMA

Cynomadeus


WOW!


REQUEST FILES

Silakan isi comment tuk request lagu!!!


11 January 2009

HARI MOEKTI DAN MAKARA

MAKARA, Pelopor Band Art Metal Indonesia

MAKARA berdiri tahun 1980 di lingkungan Fakultas Hukum UI meskipun cikal bakalnya sudah dimulai sejak 1978 ketika tekanan pemerintah Orde Baru terhadap kalangan mahasiswa sangat represif. Saat itulah Andy Julias dan Januar Irawan menciptakan lagu Sangkakala yang menyulut semangat muda untuk menentang tirani dan sampai saat ini lagu tersebut, setelah di revitalisasi, masih dibawakan oleh MAKARA dalam aktifitas panggungnya.

MAKARA memang rebellion. Saat kelompok musik lain dipengaruhi musik mainstream fusion jazz-rock, sweet art rock, dan heavy metal, MAKARA memerkenalkan art-metal, suatu konsep yang dipercayai sebagian orang lebih pintar dari heavy metal namun lebih perkasa dari art rock. Saat orang lain sibuk menjadi cover band MAKARA berani membawakan karya sendiri dalam pertunjukan panggungnya. Saat orang lain menciptakan lagu cinta, MAKARA memilih tema sosial. Saat orang lain terpengaruh Guruh Sukarnoputra membuat lirik sansekerta dalam bahasa cinta, MAKARA membuat lirik lugas dan lantang berani mengkritik lingkungan sekitar. Laron-laron tercipta sebagai suatu overview terhadap kegagalan program transmigrasi pemerintah saat itu. Begitu banyak orang datang ke Jakarta tanpa keahlian dan harus menjadi kaum urban kota yang gagal.

Pada saat awal pendiriannya beberapa personel dari lingkungan kampus UI seperti Ikang Fawzi dan Tonny Wenas (Solid 80) sempat bergabung, termasuk juga Denny TR (guitaris) yang saat itu lebih memilih hengkang bergabung dengan Karimata di era Tahun 1983 an. Sepeninggal mereka Harry Mukti (vocal), Adi Adrian (belakangan dikenal sebagai keyboardist Kla), Agus Anhar (guitar) dan Kadri, vocalist berakar jazz pada awalnya dari lingkungan Fakultas Hukum UI yang sempat menggantikan Harry Mukti sebelum akhirnya Harry Mukti kembali bergabung dan menjadikan MAKARA sebagai band rock pertama di Indonesia saat itu yang mempunyai dua ujung tombak vocalist.

Dengan formasi ini MAKARA menguasai panggung rock Jakarta sampai Malang dengan membawakan karya-karya sendiri selain beberapa karya group dunia seperti Saga, Toto dan lainnya dalam porsi kecil. MAKARA saat itu dikenal sebagai band rock generasi kedua setelah generasi God Bless, SAS, Giant Step dan lain-lain. Pada tahun 1984 MAKARA menjuarai Festival Rock Indonesia dan menampilkan Kadri sebagai vocalist terbaik

Pelan tapi pasti, MAKARA melepas album pertamanya pada 1986 dengan hit Laron-Laron karya cipta Andy Julias dan Januar Irawan yang diproduksi oleh ProSound dengan distribusi Billboard yang merupakan salahsatu dari perusahaan rekaman terbesar saat itu. Dalam rekaman tersebut MAKARA dengan bintang komposer Januar Irawan dan Andy Julias melepas sedikitnya dua lagu untuk corak rock dengan idiom tradisional Indonesia. Lagu "Di Dunia Angan" mengangkat sentuhan musik pentatonis Bali sementara pada lagu "Fabel" memasukkan nuansa musik Minang.

Pengaruh group art-rock dunia seperti Genesis dan Saga sangat kuat di MAKARA. Keberadaan dua vocalist Harry Mukti dan Kadri yang mempunyai karakter suara dan aksi panggung berbeda diharapkan memberikan alternative kepada penggemarnya. Agus Anhar yang sangat kuat dengan gaya heavy metal dan penggemar berat Eddy Van Hallen serta Adi Adrian yang kadangkala banyak menyilangkan nuansa art rock atau techno rock memberikan indikasi betapa luasnya wawasan bermusik MAKARA dalam rekaman Album Pertamanya tersebut. Rekaman MAKARA saat itu dianggap sesuatu yang berani dan sangat diperhitungkan oleh musisi rock lainnya saat itu. (Sumber : Indonesian Progressive Society)



Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Makara merilis album baru pada tahun 2008 (semacam reuni lah...) Albumnya diberi judul MAUREEN dan sangat bagus... monggo di download.....

DIAN PRAMANA PUTRA

Dian Permana Poetra (Medan, Sumatera Utara, 2 April 1961) adalah musikus Indonesia. Pada tahun 1980an ia dikenal dengan nama Dian Pramana Putra setelah muncul kembali (pada album The Best of Dian Pramana Poetra tahun 1999) ia menggunakan ejaan lama oe untuk menggantikan huruf u pada Putra sebagai labelnya.

Bakat musiknya mengalir dari ayahnya yang juga seorang pemusik jazz. Di ajang festival LLCR pada tahun 1980, Dian sempat meraih juara tiga lewat lagu "Pengabdian". Selain sebagai seorang penyanyi dan pencipta lagu, ia juga pernah berduet dengan Deddy Dhukun yang terkenal dengan panggilan grup itu yaitu 2D. Diantara lagunya yang populer dan meledak di pasaran yaitu Keraguan yang diciptakan oleh 2D sendiri.(Sumber: www.detikhot.com / Foto: www.indolawas.blogspot.com)

LEO KRISTI

NYANYIAN TANAH MERDEKA


Seperti satu meriam kala meledak
Seribu bedil adakah berarti
Kalau laras laras sudah berbalik
Apalagi kau tunggu saudara
Ayo nyalakan api hatimu
Seribu letupan pecah suara
Sambut dengan satu kata
“ Merdeka ! “

Merah putih mawar melati
Merah putih bara hati
Merah putuh mawar hati
Merah putih setiap hati

Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka
Bunga-bunga berguguran
Di sana di bawah panji
Tanah airku tanah merdeka